Konflik antara Ahok dan DPRD DKI Jakarta semakin memanas. Setiap harinya media massa berlomba untuk memberitakan pertikaian mereka berdua. Berbagai macam usaha telah dilakukan oleh pihak manapun untuk mengupayakan perdamaian, namun kerap kali gagal. Mediasi yang dicanangkan oleh pihak Kemendagri pun batal, lantaran kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah. Lantas siapakah yang dirugikan dari itu semua?
Dalam sistem pemerintahan yang dijalankan, bangsa ini menganut sistem presidensial. Sistem ini menitik beratkan adanya pemisahan kekuasaan antara pemerintah pusat dan anggota dewan. Kekuasaan keduanya sama-sama berasal dari mandat rakyat. Makanya dalam sistem seperti ini, dibutuhkan koalisi yang kuat dan mapan terpola agar dalam menjalankan pemerintahannya, seorang Presiden, baik Gubernur maupun Walikota atau Bupati tidak terganggu oleh reaksi-reaksi yang diberikan oleh para legislatif.
Ada empat keuntungan yang di dapat jika memakai sistem seperti ini. Yang pertama ialah kekuasaan seorang kepala negara ataupun kepada daerah menjadi lebih legitimate karena mendapat langsung dari para pemilih. Yang kedua adalah pemisahan kekuasaan antara pemilik kekuasaan tertinggi dan juga anggota dewan dapat memungkinkan terjadinya pengawasan yang ketat diantara kedua lembaga pemerintahan tersebut. Sistem ini membuka kemungkinan keterbukaan antar lembaga pemerintahan agar tak terjadi sebuah penyalahgunaan kekuasaan. Yang ketiga adalah dengan kondisi seperti ini, seorang pemimpin dapat mengambil tindakan secara strategis yang amat menentukan secara cepat. Dan yang keempat ialah dengan masa jabatan yang telah ditentukan, seorang pemimpin dapat berkuasa dengan stabil.
Dalam sistem seperti ini, Juan J. Linz dalam buku Pergeseran Fungsi Legislasi karangan Saldi Isra, menyatakan bahwa kerap kali akan terjadi ketegangan antara pemerintah pusat ataupun daerah dengan anggota legislatif. Ketegangan seperti ini hampir terjadi di seluruh negara yang menganut sistem presidensial. Hal ini lantaran keduanya sama-sama mendapat mandat dari rakyat. Seperti yang saat ini sedang terjadi antara Ahok dan juga DPRD DKI Jakarta.
Yang tak terpikirkan selama konflik ini terjadi ialah tentang kepentingan rakyat, yang seharusnya sama-sama mereka perjuangkan. Akan banyak agenda yang tertunda lantaran keduanya masih saja saling sikut satu sama lain.
Kejujuran dalam berpolitik itu sangat penting. Sedangkan keributan yang saat ini terjadi hanya akan membuat masyarakat semakin gelisah dan acuh terhadap aktifitas politik para pemimpinnya.
Penulis teringat tulisan dari Jefrie Geovanie, dalam artikelnya yang berjudul Politik Kebajikan dia menyatakan bahwa moral dan etika politik harus mengacu pada ajaran Tuhan tentang amar makruf nahi mungkar. Hal tersebut akan menghasilkan sebuah kesadaran etis dan moral perilaku politik para pemimpin, untuk selalu berperilaku jujur, baik dan amanah.
Sejatinya, pemimpin kita yang saat ini sedang ribut-tibut tersebut sama-sama sedang mengatasnamakan rakyat dalam setiap perilakunya, baik Ahok maupun para anggota dewan daerah Jakarta. Karena demokrasi, sejatinya ialah sebagai sebuah bentuk pemerintahan dengan segenap kegaiatan yang dikelola dengan menjadikan rakyat sebagai titik tumpu. Keributan yang mereka ciptakan saat ini sekiranya harus cepat berakhir, karena ada rakyat yang sudah menderita dari hal tersebut.
Kita atau rakyat sekalian sudah cukup jenuh dengan semua itu. Kita berharap, mereka duduk bareng, bicara baik-baik, jangan saling tunjuk dan mencaci, jangan saling tuduh, jangan saling membenci. Ingat mereka dipilih dari hati suci kami para rakyat yang kerap kali sulit tidur karena perut tak terisi.
Sudah saatnya para pemimpin bangsa berhenti mempertontonkan pertengkaran yang memabukkan. Bangsa ini sangat merindukan seorang pemimpin yang sering tersenyum dan tertawa yang memberi contoh kepada kaum muda betapa pentingnya sebuah etika. Kita sudah bosan dengan aksi tipu-tipu anggota dewan, menggelembungkan anggaran, demi kantong pribadinya masing-masing. Iblis berdasi selalu menggoda, namun rintihan lapar kami kian tak terdengar.

0 Response to "Konflik antara Ahok dan DPRD, Apakah Kita Merasa dirugukan ???"